Monday, April 4, 2011

Sebuah Pojok Kecil di Indonesia

Jalan tanah menyusuri punggung gunung
 Pagi baru saja merekah, menanggalkan selimut malam yang dingin. Setelah diguryur hujan semalaman, jalan desa yang hanya dikeraskan oleh batu ini terlalu mengerikan ditempuh dengan ojek motor. Maka diputuskanlah berjalan kaki saja ke tempat perajin gula aren yang menjadi binaan Diva Maju Bersama.

Termenung di tengah jembatan
Mengikuti kontur tanah, jalan desa itu seperti pita membalut pinggang gunung, mendaki - menurun, membelok, kemudian mendaki dan menurun lagi. Ketika sampai pada sebuah jembatan, menatap air bening yang mengalir dan terantuk pada batu-batu, desirannya membuat saya jadi egois. Semoga capitalisme tidak akan pernah menemukan jalan ke kampung ini yang akan mengotori air, memusnahkan pokok-pokok aren yang tumbuh dikiri kanan dan membuat burung-burung yang terdengar mencicit bersama anak-anaknya itu kehilangan tempat tinggal.
Mencicipi air nira aren segar bergelas daun keladi
 Tak lama kami berpapasan dengan seorang bapak yang baru saja menurunkan lodong dari pohon aren yang disadap sejak kemarin sore. Indrawanto yang dipanggil bos sudah menjadi icon dikampung ini :), ditawari mencicip soft drink ala kampung : nira segar. Karena tidak ada gelas, pemandu kami tidak kehilangan akal, membacok beberapa lembar daun keladi dengan parang yang selalu terselip dipinggangnya dan memberikannya pada kami satu-persatu.

Saya sudah beberapa kali mencoba nira segar, tapi yang baru diturunkan dari pohon ini rasanya luar biasa. Sebelum lenyap seluruhnya di perut, sebentar saya tatap sisa cairan bening itu berguling-guling di permukaan daun talas yang mengandung lilin. Dari sinilah bunyi peribahasa "Seperti Air di Daun Keladi" itu berasal.
Dari ladang menuju lumbung
 Ternyata desa pagi ini tidaklah sesunyi seperti tampaknya. Setidaknya begitu yang terlihat dari geliat ekonomi Bapak yang memanggul bulir-bulir padi ini. Dia sudah turun ke ladang sejak subuh, membenahi pada masak yang akan disimpan di lumbung. Karena menjual padi ditabukan di desa ini, lumbung-lumbung mereka penuh  padi untuk beberapa keturunan. Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa ada padi berusia sampai seratus tahun dan tidak dikonsumsi jawabnya disini: tabu menjual padi. Padi tersebut berusia panjang tanpa mengalami kerusakan sedikitpun berkat sistem perladangan organik seratus persen.

Saat mengetahui ini, saya menyumpahi sistem pertanian Indonesia yang menggunakan pupuk kimia untuk menggenjot produksi. Keserahan membuat tanah menderita. Tapi disini tidak ada desakan surplus produksi, karena tidak boleh dijual, padi hasil panen tahun-tahun kemarin tersedia di lumbung.Bahkan salah seorang perajin kami bercerita bila kenapa-kenapa dengan Indonesia, sawah berhenti berproduksi, dia dan anak-anaknya tidak akan kekurangan beras selama lima tahun.

So siapa yang lebih cerdas sebetulnya?

Salam,
-- Evi Indrawanto
Arenga Palm Sugar Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

0 komentar:

Post a Comment