Thursday, July 2, 2009

PELATIHAN PENGOLAHAN GULA AREN ASTAMBUL


Source : PELATIHAN PENGOLAHAN GULA AREN ASTAMBUL
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banjar memilih Kecamatan Astambul sebagai tempat Pelatihan Pengolahan Gula Aren mengingat kawasan ini dapat menjadi sentra penghasil bahan baku gula aren. Sebanyak 20 orang Petani Aren Astambul sebagai peserta pelatihan dilatih secara teori dan teknis aplikasi oleh para instruktur Fakultas MIPA Unlam Banjarbaru selama lima hari, 4 Mei s.d 8 Mei 2009.

Gula aren berasal dari nira ( cairan manis ) yang berasal dari tandan bunga jantan pohon enau dikumpulkan terlebih dahulu dalam sebuah bumbung bambu.Untuk mencegah nira mengalami peragian dan nira yang telah mengalami fermentasi tidak bisa dibuat gula,maka ke dalam bumbung bambu tersebut ditambahkan laru atau kawao yang berfungsi sebagai pengawet alami, kata salah seorang instruktur pelatihan.

Pelatihan ini dimaksudkan sebagai pembekalan kepada masyarakat, khususnya peminat, perajin maupun pengembang gula aren, ujar Kabid Sumber Daya Manusia Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banjar Drs. Putra, MAP. Jadi tujuannya memberikan pengetahuan teknis seputar pengolahan gula aren agar dapat menjadi hasil olahan yang sesuai standar kesehatan dan higienis agar terhindar dari kandungan zat – zat yang dapat merugikan tubuh.

Dalam memberikan pelatihan, Putra menjelaskan ,para instruktur menyediakan bahan belajar yang bervariasi dan menyajikannya secara gamblang , menjelaskan prosedur latihan yang akan dikerjakan dan selanjutnya memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada para petani untuk berlatih, dan mengarahkan serta mengawasi jalannya proses pembelajaran.

Sedangkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banjar Ir. H. Gusti Ruswanto mengharapkan pelatihan ini dapat memberikan manfaat dan nilai tambah, khususnya dari sisi tambahan penghasilan bagi keluarga maupun sebagai penyumbang PDRB Daerah. Selain itu pemahaman petani aren dapat lebih meningkat sehingga terjadi peningkatan mutu hasil olahan gula aren baik berupa kapasitas produksi, bentuk, model, packing/kemasan yang menarik, harapnya.


Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Saturday, May 30, 2009

DIVA'S Table Palm Sugar

DIVA'S kembali berinovasi dengan meluncurkan produk gula semut aren organik ( organic palm sugar) dalam kemasan table sugar. Kemasan yang sangat praktis dan higienis untuk melayani kebutuhan gula sehat alami Anda sehari-hari.
Setiap kotak berisi 20 sachet dan tiap sachet 9 gram gula semut aren organik. Sehat dan nikmat sebagai pencampur kopi, susu, sereal, coklat dan lain-lain.

Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Monday, May 18, 2009

The Power of Kepepet

Orang-orang dikampungku tidak akan pernah bersentuhan kulit dengan anjing, terutama air liurnya. Kalau sampai terkena perlu wudhu tujuh kali untuk membersihkannya. Aku pernah melihat teman yang menggosok kakinya berulang-ulang menggunakan tanah dan rumput gara-gara dijilat anjing milik bapaknya.

Tapi itu tidak berarti kami tidak mempunyai anjing. Hidup di kampung membuat hewan penurut ini tetap dibutuhkan. Bahkan kadang diperbolehkan berkeliaran menjelajah seisi kampung. Pemeliharaan mereka tentu saja bertujuan ekonomi. Kalau bukan untuk berburu biasanya juga digunakan sebagai penjaga malam. Satpam yang akan menggonggong bila halaman dimasuki tamu asing.

Hubungan tulisan ini menyangkut kenanganku dengan anjing-anjing bebas tersebut. Tidak ingat persis umur berapa. Waktu itu menjelang sore. Saya bermain di jalan yang di tepingnya ada kali kecil. Tidak lama melintas seekor anjing warna coklat. Aku pikir ada korelasi antara batang kayu yang tergeletak tidak jauh dari situ dengan si anjing. Maka dengan sekali ayun batang kayu itu mendarat di punggung si browny.

"Kik!" Setelah itu sunyi. Ternyata disitu juga ada kerikil nganggur. "Bletokk!" kali ini mengenai kepalanya.

Ketika akan mengambil kerikil kedua, kepala si browny kurus kurang gizi itu sudah mengarah kepadaku. " Geerrr...." matanya oval, coklat berkabut, menonjol setengahnya lalu perlahan-lahan menyipit. Kali ini dia menyalak. Satu kali, dua kali lalu berkali-kali.

Mungkin seharian si browny tidak dapat makan. Perjalanannya jauh. Dia sedang lelah. Dan mungkin saja sedang memikirkan kematian. Lah kok tiba-tiba ada anak kurang ajar yang melempari punggung dan kepalanya seenak puser saja.

Suara gonggongannya yang kering langsung membuat tetabuhan pecah di dadaku. Sekarang aku sudah tidak memperhatikan matanya. Tapi menatap cairan putih diantara rahang dan susunan geligi panjang dan runcing pula telah membangkitkan insting purbaku. Lari...lari...teman-temanku yang berada di dalam berteriak-teriak kalap.

Bukannya lari aku malah jongkok. Soalnya ingat seorang bijak mengatakan bahwa kalau di serang anjing jongkok saja. Sikap tubuh seperti itu akan membuat si browny berpikir bahwa kita sedang cari senjata untuk melawannya.

Dasar anjing putus asa, bukannya takut malah salaknya semakin ganas. Terpaksa lah awak ambil langkah seribu. Ketika itu tidak tahu harus lari kemana. Sepertinya juga hanya aku penduduk kampung. Pikirku lagi kemanapun aku lari si browny pasti bisa mengejar. Maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa adalah melompati kali yang aku ceritakan tadi.

Hup! Sekali lompat aku sudah sampai di seberang.

Ternyata melompati kali adalah pilihan yang cerdas. Setelah beberapa lama si browny tidak melihat aku sebagai daging segar. Mungkin tenaganya habis. Atau mungkin juga kasihan. Sebab begitu mendarat di tempat aman aku sudah menangis! Suaranya amat kencang. Iramanya mengundang beberapa anak kampung lain untuk datang. Apa yang mereka lakukan? Tertawa!

Rupanya ada yang melapor kejadian itu kepada nenek. Dengan tangan penuh dedak bekas memberi makan itik, lengan baju digulung sampai setengah siku, beliau menyuruhku segera pulang. Sepertinya penderitaanku belum sempurna. Dia ikut pula tertawa setelah tahu kejadiannya.

Sore itu tidak akan ada lagi peristiwa yang sanggup mengguncangkan ku. Walaupun ada rasa sakit mendengar tawa nenek tapi tidak berpengaruh apa-apa. Maka turun perlahan lah aku ke kali. Saat menjejakankaki menyeberang itu lah terlintas pertanyaan dari mana datang kekuatan untuk melompat tadi. Is it me so wonderful?

Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Sunday, May 17, 2009

MEMBACA DUNIA SEBAGAI ENTREPRENEUR

Foto
Setelah pemilu anggota legislatif, hirup pikuk politik Indonesia seri dua akan segera berlangsung. Longok tv, baca koran dan dengar radio. Para politikus, ahli politik benaran dan dadakan serta penonton membuat negara Indonesia tambah renyah sebagai bahan gunjingan. Tadi pagi dipasar saya bahkan mendengar tukang sayur mengucapkan " SBY-Boediono yes!" pada tukang sayur lain di sebelahnya. Lalu mereka tertawa lepas.

Saya jadi ingat sebuah pemikiran yang berbau sedikit antropologist. Kebudayaan adalah sekumpulan arti yang disepakati, dikomunikasikan yang pada akhirnya akan membentuk perkembangan dalam ekonomi, politik, dan institusi sosial.

Tukang sayur itu mungkin bisa disebut sebagai entreprener jika aktivitas ekonomi dianggap sebagai garapan kaum entreprener. Tapi yang saya sebut sebagai entrepreneur adalah mereka yang selalu melihat peluang ekonomi dalam segala hal. Tidak masalah SBY tidak memilih JK lagi sebagai calon wakilnya, atau Prabowo akhirnya merapat pada PDI, atau deklarasi SBY-Boediono yang meriah itu telah direncanakan secara amat cerdas. Entrepneur melihat bahwa pesta demokrasi di Indonesia membutuhkan spanduk, brosur, baju kaus, topi, kalender, emblem atau pernik-pernik souvenir lain yang akan di buru oleh pendukung fanatik setiap kontestan. Dan para kontestan memerlukan barang-barang tersebut untuk memenangkan hati para calon pemilih. Disamping juga mereka memerlukan media untuk masuk ke dalam pikiran audiensnya.

Saya tidak mengatakan bahwa seorang entreprneur pasti kreatif. Banyak juga yang berpikir rata-rata saja. Tapi biasanya mereka amat mudah di kenali. Tanda-tandanya, sudah bertahun-tahun buka usaha nasib tidak kunjung jua berubah. Jika permintaan kaos sedemikian banyaknya mereka terpanggil juga untuk mencicipi kue. Karena orang lain juga membuat dan menawarkan kaos, pembeli jadi banyak pilihan. Pembeli yang punya banyak pilihan akan tidak melihat urgensi mengapa harus membeli dari anda bila tidak punya keistimewaan apa-apa. Dan entreprener rata-rata ini akhirnya terjebak pada permainan dagang kuno: banting-bantingan harga.

Sementara para entreprenur sukses sampai jauh seperti Bill Gates akan berbeda. Mereka tidak melihat dunia secara berjamaah. Mereka memiliki kepala yang dilengkapi radar dan daya penicuman tajam seperti anjing pelacak. Perangkat itu lah yang membuat mereka menemukan lubang atau celah yang akan mendatangkan profit.

Contohnya Bill Gates mungkin akan menawarkan pragrame kampanye yang berbeda kepada SBY-Boediono. Alih-alih mengotori jalanan dengan spanduk lebih baik calon presiden dan wakilnya itu merancang target pemilih menurut demografi. SBY itu ganteng. Pastinya tidak akan sedikit ibu2 di Indonesia akan memilih SBY berdasarkan tampilan fisiknya. SBY itu pandai pula menyanyi. Suaranya bisa di jual kepada calon pemilih pemula dan anak2 muda funky lainnya. Dengan sedikit pemikiran dan memilih media yang tepat kampanye SBY-Boediono akan memiliki jangkauan segala lapisan masyarakat. Tidak seperti kampanye sudah-sudah, asal tubruk dan bergerombol di tepi jalan.

Menjadi entreprener berarti menjadi seorang yang tidak konvensional. Bisa jadi mereka melihat segala sesuatu sama kompleksnya dengan orang lain. Hanya dengan satu cara mereka berbeda. Kadar sensitif mereka terhadap peluang keuntungan lebih tinggi dari orang lain. Mereka itu seperti "colokan" kabel yang ditancapkan pada stop kontak ekonomi yang akan menghidupkan aktivitas pertukaran .


Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners